Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kopi
Tunjukkan semua

Bencana

Dampak banjir dan longsor di Sumatera
ilustrasi oleh AI

26 November 2025, tiada yang menyangka tak sempat ngopi pagi, terutama di beberapa kawasan di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Air datang membawa kayu-kayu, menghempaskan permukiman warga di tiga wilayah Sumatera. Anak-anak berpisah dengan orang tuanya, suami-istri terpisah bukan melalui pengadilan agama, melainkan oleh pengadilan alam.

Beberapa desa terisolasi. Jangankan listrik dan internet, bahkan makanan pun tiada. Mirisnya lagi, air bersih hingga kini—dua pekan setelah banjir dan longsor—masih belum tersedia di beberapa tempat. Sejenak saya bertanya, "Apakah negeri ini memiliki pemerintah?" sambil menyeruput kopi arabika di Gerobak Arabica.

Bencana adalah peristiwa sosial yang terjadi ketika gangguan besar memengaruhi struktur sosial dan memerlukan perubahan mendasar dalam cara masyarakat berfungsi untuk sementara waktu (E.L. Quarantelli).

Sementara itu, menurut Carter (1991), bencana adalah suatu kejadian, baik alami maupun buatan manusia, yang menyebabkan dampak serius terhadap kehidupan manusia dan lingkungan, serta membutuhkan tindakan darurat yang terorganisasi.

Dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 (Indonesia) disebutkan, "Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam, nonalam, dan/atau faktor manusia yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta dampak psikologis."

Dari tiga pemaknaan bencana di atas, setidaknya kita sepakat bahwa bencana adalah gangguan. Karena pemaknaan bencana berasal dari manusia, maka di sana terdapat keberpihakan. Seperti halnya istilah "bencana alam", seharusnya tidak tepat disematkan pada peristiwa banjir. Alam hanya beroperasi sesuai dengan hukum dan keseimbangannya sendiri.

Namun, manusia kemudian mengubahnya melalui deforestasi. Bila BMKG mau jujur, mereka pasti akan mengatakan bahwa memprediksi cuaca kini semakin sulit. Penebangan, baik ilegal maupun legal yang dilakukan secara ugal-ugalan, berdampak pada cuaca yang semakin tidak menentu.

Saya pernah menggunakan aplikasi BMKG. Beberapa jam sebelumnya diperkirakan cerah, tetapi beberapa menit kemudian wilayah tersebut dinyatakan hujan.

Itu baru contoh sederhana. Belum lagi panas ekstrem yang tiba-tiba melanda. Bencana yang dilakukan segelintir manusia kini berdampak luas bagi manusia lainnya.

Dalam kajian sosiologis, hal ini merupakan pelanggaran kontrak sosial. Manusia hidup dalam ekosistem yang seharusnya saling menjaga hak satu sama lain. Tidak ada pihak yang paling berhak mengeksploitasi alam demi keuntungan pribadi maupun kelompok.

Hutan adalah milik bersama; bahkan terdapat makhluk hidup lain di dalamnya. Pihak yang berkepentingan terhadap hutan jauh lebih banyak dibandingkan dengan jalan raya yang kita gunakan. Kalaupun penebangan hutan dilakukan dengan alasan ekonomi, maka harus berdasarkan kajian ilmiah yang matang.

Deforestasi terus berlangsung, sementara penanaman kembali tidak dilakukan secara seimbang. Maka wajar jika keseimbangan terganggu. Wajar pula jika alam bereaksi dengan dampak yang tidak mampu kita tanggung. Namun, pada akhirnya, kita justru menyalahkan alam dengan menyebutnya sebagai "bencana alam".

Apakah kita waras?

Kopi Pagi

Kopi pagi
Bagaimana kopimu hari ini?

Kopi pagi selalu memberi rasa syukur. Hari itu bermakna masih ada pintu tobat. Masih ada kesempatan memperbaiki hati dan pikiran. Masih ada kesempatan merencanakan. Cerita itu terus berulang, namun seolah hanya angin lalu. Dekonstruksi rutinitas bukanlah perkara mudah, apalagi seiring bertambahnya godaan, sementara pengetahuan dan iman begitu-begitu saja.

Pada titik ini, mungkin benar apa kata Albert Camus: manusia hidup dalam ketegangan antara kebiasaan yang meninabobokan dan kesadaran yang menyakitkan. Kopi pagi menjadi perantara kecil antara dua dunia: dunia yang ingin tetap nyaman, dan dunia yang menuntut perubahan.

Maka wajar penyakit hati dan pikiran semakin kuat, sementara imun semakin melemah—pikiran yang mudah dipengaruhi dan hati yang mudah kotor. Sementara itu, kopi selalu menatap penuh harap—perubahan pikiran dan hati, minimal menyeimbangkan dengan “virus” yang kian berkembang.

Seolah menyeru seperti Nietzsche: “Setiap hari kau harus menyalakan kembali api dalam dirimu. Jika tidak, kau akan hidup dari abu orang lain.”

Elit akademis dan elit agama kian hari semakin melemah perannya. Bukan karena perkembangan zaman, namun karena mereka yang enggan berkembang, konon lagi maju. Ucapan-ucapan mereka kian jauh dari tindakan nyata. Tidak semua orang mampu menoleransi itu; mereka semakin jauh dari cahaya, malah terjun bebas ke dunia transaksi.

Beginilah yang diingatkan oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddimah: ketika elit kehilangan kejujuran intelektual, masyarakat menghadapi kemunduran bukan karena kurang ilmu, tetapi karena hilangnya etika.

Kopi pagi menyadari itu. Di media sosial dan media online kita kemudian sering menemukan kalimat, “Ini zaman ketidakpastian, zaman tipu-tipu.” Kalimat itu secara realistis banyak benarnya, namun mengatai diri sendiri bukanlah solusi. Mengapa mengatai diri sendiri? Jelas saja kita hidup di zaman yang dihardik itu. Pertanyaannya, “Apakah zaman-zaman sebelumnya ada kepastian?”

Secara historis dan sosiologis, semua zaman pada dasarnya sama. Penipu banyak, namun orang-orang jujur juga tak sedikit. Pemimpin amanah selalu ada; pemimpin kurang amanah juga ada. Barangkali sejarah kejayaan masa lalu hanya nostalgia. Kita enggan mengambil roh sejarah. Hanya membaca dan mendengar kisah kejayaan tanpa mau merasakan pahitnya kopi pagi.

Seperti dikatakan Walter Benjamin, sejarah sering dipotret dari sudut pemenang, sementara penderitaan mereka yang tersingkir terhapus oleh narasi besar yang dibangun penguasa.

Kita hanya melihat tokoh utama di masa jaya. Kita lupa bagaimana masyarakat saat itu, bagaimana pahit yang pernah mereka rasa sebelum hadirnya kejayaan. Kita lupa berapa liter darah, berapa puluh bahkan ribuan nyawa melayang. Kita lupa berapa gelas kopi hitam yang mereka habiskan agar sampai pada titik itu. Semangat itulah yang jarang kita obrolkan.

Dan meski sampai titik kejayaan, apakah tidak ada penindasan? Apakah semua yang berkontribusi mendapat apresiasi, minimal tertulis dalam catatan sejarah? Belum tentu. Lihat saja segelas kopi yang begitu nikmat—sebelum sampai ke meja ia mengalami beberapa proses. Dan begitu banyak yang berkontribusi: mulai dari petani, tanah, air, udara, matahari, dan lain-lain.

Inilah yang dalam antropologi disebut “invisible labor” — kerja tak-terlihat yang menopang segala kelezatan dan kemajuan, namun tak pernah diangkat dalam narasi besar.

Namun sebagaimana sejarah, kopi mendapat kejayaan, namun mereka yang berkontribusi sering terlupakan. Tak perlu sedu-sedan; Tan Malaka tetap hidup di mata pengagumnya. DN Aidit, yang dianggap pemberontak meski sebelumnya berjasa, juga terus diperbincangkan. Mari melihat kisah di balik kisah—menikmati kopi sambil menelaah para kontributor kenikmatan itu, termasuk yang paling utama, Allah Azza Wa Jalla.

Sambil ngopi pagi, saksikan bagaimana pembuat sejarah berakrobat. Ada lelucon di tengah krisis; ada krisis di tengah lelucon, yaitu lelucon yang tak lucu. Pejabat bodoh dijadikan pembuat kebijakan, pejabat pintar membodohi rakyatnya. Lelucon ini sudah sejak lama ada, bukan hal baru. Hanya saja kita sering pingsan ingatan.

George Orwell pernah menulis, “Dalam masa penipuan universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.” Tampaknya kopi pagi setuju.

Ketidaksadaran itu dimanfaatkan dengan baik oleh mereka. Seseorang dapat menjadi pahlawan meski ribuan nyawa rakyatnya pernah dibunuhnya. Ketika Hasan Tiro mendeklarasikan berdirinya gerakan perlawanan, pahlawan itu sudah memasuki periode kedua kekuasaan. Ia berhubungan intim dengan adikuasa. Militer jadi tunggangan sekaligus anjing penjaga kekuasaannya. Sejak saat itu, satu demi satu rakyat di ujung barat itu dibunuh.

Kopi pagi tersenyum sambil menyindir, “Begitulah manusia, cepat lupa sejarahnya sendiri.” Dan adagium sejarah berlaku: sejarah milik pemenang. Sang diktator yang menjadikan Aceh dan Timor-Timur kawasan perang, pemberi akses perusahaan asing mengambil SDA seenaknya, malah dianugerahi gelar pahlawan.

Di sinilah relevan ucapan Milan Kundera:

“Pertarungan manusia melawan kekuasaan adalah pertarungan ingatan melawan lupa.”

Kopi pagi tersenyum lagi sambil berkata, “Apakah aku bisa menjadi pahlawan?” Tak perlu bersedih, wahai kopi. Seorang Socrates yang tetap hidup di arena pemikiran pun harus mengakhiri hidup dengan sadis—dianggap pemberontak karena meresahkan kekuasaan. Namun di kemudian hari malah sebaliknya. Cukuplah jadi pahlawan bagi diri sendiri.

Konsep “pahlawan bagi diri sendiri” ini sejalan dengan filsafat Stoikisme: bahwa kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri, bukan atas orang lain.

Pahlawan Sejati

Siapa sebenarnya pahlawan sejati? Apakah ibu, ayah, teman, saudara, guru, atau siapa? Semuanya pahlawan menurut kopi. Besar-kecil kontribusi tidak mengurangi gelar itu. Bahkan diri sendiri juga pahlawan bagi diri sendiri bila membawa diri ke jalan yang benar.

Jalan kebenaran itu sepi, tidak ada kemewahan kecuali kebenaran itu sendiri. Menapaki jalan itu penuh ujian dan cobaan. Sama seperti kopi pagi yang tersaji—tidak semua biji kopi diproses menjadi segelas kopi. Beberapa dibuang. Prosesnya panjang, dan hasilnya tentu penuh kenikmatan dan, yang paling penting, penuh berkah.

Di sinilah cocok kata Rumi:

“Jalan kebenaran adalah jalan yang sunyi. Hanya mereka yang berani kehilangan dirinya akan menemukannya.”

Seperti halnya pikiran, kopi membutuhkan air jernih agar tidak mengurangi rasa. Air itu harus panas sebelum dicampur bubuk kopi. Baik biji kopi maupun air jernih harus melewati proses itu. Pikiran jernih juga harus “dipanaskan” dengan beragam persoalan dan wacana dalam bentuk diskusi dan literasi, agar dapat dikonsumsi dengan sehat dan menambah kenikmatan kopi pagi.

Begitulah kopi mengajarkan epistemologi sederhana: bahwa pengetahuan lahir dari proses pemurnian dan pemanasan, seperti kata Paulo Freire—manusia harus “ditempa” oleh dialog dan refleksi untuk menjadi sadar. Selamat ngopi!!!.

Kopi Ternikmat Adalah...

Ilustrasi dari AI

Ada yang bertanya, “Bang, kopi apa yang paling nikmat?”

Pertanyaan sederhana ini dapat dijawab oleh semua orang yang pernah mengonsumsi kopi. Karena pertanyaan itu mengandung nilai rasa, maka jawaban setiap orang pasti berbeda. Namun frasa “nikmat” di dalamnya tidak hanya berbicara soal lidah; ia menyimpan dimensi emosional, spiritual, bahkan religius. Setiap orang memiliki sejarah rasa, dan setiap rasa membawa jejak pengalaman hidup.

Dengan terus memandang asap rokok yang naik perlahan, melirik kanan–kiri, serta mencium aroma damai di sekitar, jawaban tak kunjung muncul. Padahal bisa saja saya menjemput jawaban cepat, atau sekadar meminta bantuan AI untuk menyiapkannya. Namun rasa-rasanya jawaban seperti itu tidak akan jujur. Karena pertanyaan tadi bukan sekadar pertanyaan teknis tentang kopi, tetapi pertanyaan reflektif—yang hanya bisa dijawab dengan membuka folder-folder pengalaman yang tersimpan di pusat data kepala dan hati.

Maka saya duduk sejenak, memanggil logika menyapa nalar, lalu mengajak pancaindra ikut berdiskusi. Butuh waktu cukup lama sampai semuanya sepakat: kopi ternikmat adalah kopi yang diminum setelah membantu dan membahagiakan orang lain. Ada rasa lapang yang muncul setelah kebaikan dilakukan, dan kelapangan itulah yang membuat rasa kopi—apa pun jenisnya—menjadi jauh lebih nikmat. Bahkan bila disajikan di warung kopi kecil tanpa nama, tanpa barista profesional, tanpa latte art.

Ada momen-momen lain tentu saja. Seperti ketika seseorang berhasil mencapai sesuatu yang ia perjuangkan, atau ketika mendapatkan kabar baik yang lama ditunggu. Pada suasana seperti itu, kopi seolah ikut merayakan kemenangan dan menghadirkan rasa syukur yang pekat. Atau ketika ngopi bersama orang yang dicintai, di mana percakapan lebih hangat daripada minumannya, sehingga kopi menjadi bagian dari kebersamaan yang sulit diganti dengan apa pun.

Namun dari berbagai kemungkinan itu, menurut saya, kopi paling nikmat tetaplah kopi yang diminum setelah membantu orang lain—entah itu orang tua, pasangan, anak, saudara, teman dekat, atau seseorang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Dan “orang lain” itu juga termasuk diri sendiri. Maka bila suatu hari Anda merasa kopi kurang pas, tidak seenak biasanya, mungkin bukan karena bijinya, bukan karena roasting-nya, bukan karena suhu airnya. Coba evaluasi: sudahkah hari itu Anda berbuat baik kepada siapa pun?

Kita sering terburu-buru menyalahkan faktor luar—biji kopi racikan, biji kopi natural, barista yang kurang mahir, atau suasana kedai yang tidak mendukung. Padahal bisa jadi persoalannya justru ada di dalam diri: hati yang kurang bersih, pikiran yang keruh, atau jiwa yang sedang sempit. Karena itu, lakukan kebaikan terlebih dahulu—lalu lanjutkan dengan secangkir kopi. Rasakan bagaimana kopi berubah rasa ketika hati lebih jernih.

Simpulan ini tentu bukan sebuah tesis. Namun Anda berhak mengujinya dalam hidup sehari-hari. Karena manusia pada dasarnya berada dalam kerugian ketika hidup tanpa amal baik, tanpa mengajak kepada kebaikan, tanpa saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebagaimana firman Allah:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3).

Kerugian itu sering tidak kita sadari, sebab ia tidak tampak secara kasat mata dan tidak berkaitan dengan validasi manusia. Soal validasi sendiri sebenarnya bukan hal yang selalu negatif. Dalam konteks ilmiah, validasi digunakan untuk memastikan bahwa sesuatu benar, tepat, sesuai standar, atau dapat diterima berdasarkan kriteria tertentu—misalnya validasi data, sistem, penelitian, atau administrasi.

Tetapi di zaman media sosial, banyak manusia mencari validasi dengan cara yang tidak ilmiah dan tidak sehat. Orang ingin dianggap pintar, alim, kaya, cantik, tampan, atau hebat. Validasi eksternal dijadikan tujuan utama, padahal ia tidak pernah dirancang untuk itu. Validasi seharusnya membantu kita menemukan kebenaran, bukan membangun citra palsu tentang diri sendiri. Ketika validasi dijadikan tujuan, maka niat kebaikan rusak.

Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya…” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan beliau bersabda tentang riya, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil… yaitu riya.” (HR. Ahmad).

Ketika seseorang menjadikan validasi publik sebagai tujuan, ia cenderung menjual kebaikan dengan kata-kata: mengaku amalnya banyak, merasa paling pintar, paling suci, paling layak surga, paling keramat, paling kaya, dan segala “paling” lainnya. Padahal bila kita adalah objek yang dinilai, kita tidak perlu merangkap sebagai subjek yang memvalidasi diri sendiri.

Untuk menghindari kerugian seperti itu, berbuat baiklah tanpa menunggu validasi manusia. Niat yang bersih akan menjaga pikiran tetap jernih dan hati tetap lapang. Tidak perlu balasan manusia. Cukup akhiri kebaikan itu dengan secangkir kopi. Karena kopi setelah kebaikan terasa berbeda—lebih dalam, lebih tulus, dan lebih memenuhi jiwa.

Dan jangan lupa, membantu orang lain juga termasuk membantu diri sendiri. Membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperbaiki pikiran adalah bentuk kebaikan yang sering kita abaikan.

Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, hanya dengan kreativitas dan kejernihan pikiran, sampah pun dapat berubah menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai. Selamat ngopi, dan semoga setiap cangkirnya membawa kebaikan yang lebih dari sekadar rasa.